Artikel
FPKS UMSURA Perkuat Peran Perguruan Tinggi dalam Transformasi Pendidikan Digital Menuju Indonesia Emas 2045
- Di Publikasikan Pada: 12 Jan 2026
- Oleh: Admin PBI
- 86

Fakultas Pendidikan, Komunikasi,
dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menyelenggarakan
Kuliah Umum bertema “Deep
Learning & Transformasi Pendidikan Digital Menuju Indonesia Emas 2045”
pada Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung
At-Tauhid Lantai 13 Universitas Muhammadiyah Surabaya ini menjadi
ruang dialog strategis antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku
kepentingan pendidikan dalam merespons tantangan serta peluang transformasi
pendidikan di era digital. Kuliah umum tersebut dihadiri oleh jajaran rektorat,
para dekan dan pimpinan fakultas di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surabaya,
dosen, serta seluruh mahasiswa FPKS Universitas Muhammadiyah Surabaya. Turut
hadir juga Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK)
Provinsi Jawa Timur serta perwakilan Balai Bahasa Jawa Timur,
sebagai undangan dalam kegiatan kuliah umum ini.
Rektor UMSURA, Dr.
Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., dalam sambutannya menegaskan bahwa
pendidikan merupakan strategi paling fundamental dalam mewujudkan Indonesia
Emas 2045. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari
pendidikan sebagai proyek besar peradaban yang menentukan arah masa depan
Indonesia. Ia menekankan bahwa pengalaman negara-negara maju menunjukkan
keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia
yang unggul, berkarakter, berintegritas, dan memiliki daya saing global. Oleh
karena itu, perguruan tinggi harus mengambil peran strategis dan tidak hanya
menjadi penonton dalam proses perubahan, tetapi turut aktif berkontribusi serta
berkolaborasi erat dengan pemerintah
Lebih lanjut, Dr. Mundakir
menyampaikan bahwa Umsura berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam
pengembangan deep learning
dan transformasi pendidikan digital. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan
teknologi harus dibarengi dengan penguatan nilai, etika, dan makna
pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran berbasis teknologi yang maju tetapi
minim nilai berpotensi kehilangan arah dan tujuan kemanusiaan. Oleh sebab itu,
transformasi digital di lingkungan pendidikan harus tetap berorientasi pada
pembentukan karakter, penguatan moral, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan
dan keislaman sebagai fondasi utama.
Sementara itu, Wakil Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A.,
dalam pemaparannya menegaskan komitmen pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan akses
pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pemerintah
saat ini menjalankan tiga agenda strategis secara paralel, yakni penguatan
infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas guru, dan penguatan kepemimpinan
kepala sekolah. Hingga saat ini, pemerintah telah memperbaiki lebih dari 16
ribu sekolah di berbagai daerah, meskipun masih terdapat hampir 200 ribu
sekolah yang membutuhkan perbaikan. Pada tahun 2026, pemerintah menggelontorkan
anggaran untuk perbaikan 60 ribu sekolah sebagai bagian dari upaya percepatan
peningkatan mutu pendidikan nasional.
Dr. Fajar juga menekankan
pentingnya infrastruktur digital sebagai salah satu elemen kunci dalam
pendidikan modern. Menurutnya, infrastruktur digital yang memadai mampu
mengakselerasi kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Teknologi,
tegasnya, harus diposisikan sebagai penguat pendidikan, bukan sebagai pengganti
peran guru. Pemerintah, lanjutnya, telah mengembangkan berbagai inovasi,
termasuk Aplikasi
Rumah Pendidikan yang menyediakan konten pembelajaran hasil
produksi Kementerian Pendidikan, serta memperluas bantuan interactive flat panel untuk mendukung pembelajaran
interaktif di sekolah.
Dalam aspek pedagogi, Dr. Fajar
menegaskan bahwa deep learning
bukanlah kurikulum, melainkan metode atau pendekatan pembelajaran yang
menekankan kualitas pemahaman peserta didik. Pendekatan ini mendorong
keterkaitan antara konsep akademik dengan kehidupan nyata, serta membangun
keberanian siswa untuk bertanya, berpikir kritis, dan reflektif. Ia juga
menyoroti bahwa salah satu tantangan utama pendidikan nasional adalah kualitas
guru, yang tercermin dari capaian literasi dan numerasi siswa SMA/SMK yang
masih berada di bawah standar nasional. Oleh karena itu, peningkatan
kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan sertifikasi PPG menjadi
prioritas utama pemerintah.
Selain guru, kepemimpinan kepala
sekolah juga dinilai memiliki peran sentral dalam menentukan kualitas
pendidikan. Kepala sekolah diharapkan mampu membangun budaya belajar di
lingkungan sekolah melalui penguatan professional learning community,
memberikan ruang bagi guru untuk terus belajar, serta melakukan monitoring dan
evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan. Dengan kepemimpinan yang kuat,
sekolah diharapkan dapat berkembang menjadi organisasi pembelajar yang adaptif
terhadap perubahan.
Melalui kegiatan kuliah umum
ini, FPKS UMSURA berharap dapat memperkaya wawasan akademik sivitas akademika
sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga
terkait dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan
berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.